Kalau Pertanian Adaptif Terhadap Lingkungan, NTT Tak Mungkin Krisis Pangan

November 29, 2014 in Blog

SACOM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah Nusa Tenggara Tmur menggelar Pelatihan Konservasi Tanah dan Air, teras sering, Analisa Usaha Tani, Penguatan kelompok Tani, di Komunitas Adat Pubabu – Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, (7- 13/9/2014).

Kegiatan ini sebagai upaya awal untuk mulai membangun kedaulatan pangan dan menyelematkan air dan hutan Pubabu – Besipae di wilayah itu.

Manager Program Walhi NTT, Melky Nahar, Senin (8/9/2014) menyatakan, NTT sebenarnya tidak mengalami krisis pangan kalau proses penataan dan pengelolaan pertaniannya adaptif terhadap perubahan iklim. Selama ini, persoalan itu tidak diperhatikan serius, akibatnya para petani gagal tanam dan gagal panen,” jelas Melky.

Selain itu, demikian Melky, manajemen konsumsi dan distribusi hasil pertanian selama ini tidak tertata rapih. Akibatnya, kebutuhan akan pangan per tahun dari para petani tidak diketahui pasti.

Direktur Walhi NTT, Herry Naif, dalam sambutannya dalam membuka acara tersebut mengungkapkan, pelatihan konservasi tanah dan air merupakan satu dari berbagai jenis kegiatan yang akan dijalankan Walhi satu tahun kedepan di Komunitas Adat Pubabu – Besipae. Menurutnya, program ini berjalan kerjasama dengan Global Environment Facility (GEF).

“Kami kerjasama dengan GEF, sebuah donatur yang selalu mendukung Walhi selama ini. Program ini akan berjalan selama 15 bulan kedepan, yang akan terlaksana dalam berbagai aktifitas di ruangan dan lapangan. Semua kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas petani di Pubabu Besipae. Selain itu ada sebuah tujuan yang harus didorong oleh kita semua adalah menjadi “grreen Farmer” papar Herry.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM), Winfridus Keupung, pada saat pemaparan materi mengatakan, konservasi tanah dan air merupakan upaya untuk penggunaan lahan sesuai dengan syarat–syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah.

“Konservasi tanah dan air mempunyai tujuan utama untuk mempertahankan tanah dan air dari kehilangan dan kerusakannya. Lebih dari itu kegiatan ini dimaksudkan agar kita membangun sebuah pola pertanian selaras alam,” ungkap Wim.

Mantan Direktur Walhi NTT ini menyatakan, kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini adalah banyaknya degradasi lahan dan air yang disebabkan oleh banyak faktor. “Hal itu berpengaruh besar pada rusaknya atau berkurangnya kualitas dan kuantitas suatu tanah dan air yang dapat berdampak buruk pada lingkungan kita bahkan dapat menyebabkan suatu bencana alam seperti longsor yang merupakan bentuk dari erosi,” katanya.

Win, juga mengajak warga ke kebun untuk melakukan praktek lapangan tentang bagaimana membuat teras sering yang baik sesuai dengan kondisi kemiringan lapangan. Dan diajarkan untuk melihat bagaimana tanah itu dinilai kesuburan dengan memperhatikan tiga unsur yakni: pasir, debu dan liat. Ketiga aspek ini harus berimbang sehingga tanah itu mengalami kelempungan, katanya.

Sementara itu, warga Komunitas Adat Pubabu – Besipae, Paulus Selan, mengaku bangga dengan program itu. Menurutnya, Walhi NTT sudah lama bersama dengan warga komunitas adat di wilayah itu.

“Kami bersyukur karena Walhi NTT selalu bersama kami dan membantu kami dalam kerja-kerja untuk mewujudkan kedaulatan pangan bagi warga disini,” tutupnya.

Sedangkan Imanuel Tampani yang merupakan ketua Komunitas Adat Pencari Kebenaran dan Keadilan (ITA PKK) Pubabu Besipae mengungkapkan bahwa gagasan ini hendaknya diimplementasikan agar petani sungguh memanfaatkan lahan yang ada agar mampu memproduksi pangan dan mempertahankan air agar asumsi bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh petani dapat dihindarkan. Malah harus didorong agar upaya pola pertanian ini akan menjadi model yang terus diterapkan warga. Hanya dengan ini, petani mengelola lingkungan secara arif dan bijaksana.

Sumber: http://suaraagraria.com/detail-20966-kalau-pertanian-adaptif-terhadap-lingkungan-ntt-tak-mungkin-krisis-pangan.html#.VHpHC1cqqKH